HAMA

1. CACING AKAR / Pratylenchus coffea
 
 Gejala Serangan
    Pada bagian akar yang diserang tampak berwarna cokelat menjadi kehitam-hitaman, kemudian akar mati. Kerusakan terjadi karena cairan sel akar serabut dan akar yang masih muda diisap cacing akar.
    Kalau beberapa akar mengalami gejala demikian, akibat serangga, meskipun tanaman masih hidup, tetapi menderita. Hal tersebut tampak pada buah yang tidak normal, sedikit, dan kecil-kecil.

Cara Hidup
    Cacing akar bersifat polifag. Cacing ini berukuran sangat kecil, yakni jantan 0,42-0,61 mm, sedangkan betina 0,46-0,65 mm. Betina mampu meletakan telur di dalam jaringan akar. Selama lima minggu, total telur yang diletakan kurang lebih 60 butir.
    Apabila telur menetas, larva menyerang akar. Serangan hebat mengakibatkan tanaman kopi mati. Priode telur 15-17 hari, sedangkan priode larva 15-16 hari.

Pengandalian
a.) Tanah untuk pembibitan maupun tanah untuk perkebunan  didisenfeksi terlebih dahulu.
b.) Menggunakan pemupukan yang berimbang.
c.) Sanitasi, yakni pencabutan tanaman yang terkena gejala  serangan cacing akar.
d.) Penggunaan nematisida

2. KUTU DAUN / Coccus viridis

Gejala Serangan
     Pertumbuhan daun terhambat kemudian layu, akhirnya tanaman mati. Kutu selain menyerang daun dan merusak pucuk, merusak daun yang masih muda.

Cara Hidup
     Kutu berbentuk lonjong dan simetris. Panjang tubuh 4-5 mm dan berwarna cokelat agak kehitam-hitaman. Kutu betina meletakkan telur pada daun muda, rata-rata dapat diproduksi ratusan butir telur dalam setiap daur hidupnya.
     Daur hudup kutu daun kurang lebih 45 hari. Setelah telur menetas, induk betina segera mati. Masa perkembangbiakan kutu pada musim kemarau. Kutu dapat hidup besama dengan semut rang-rang. Tanaman inang lainnya seperti teh, kina, randu, jambu, jeruk, dan kamboja.

Pengandalian 
a.) Secara mekanis, yakni menghilangkan serang semut rang-rang. Kutu daun dan semut rang-rang dapat hidup bersimbiosis sehingga dengan membersihkan sarang semut rang-rang yang juga merupakan tempat tinggal kutu daun, maka kutu daun dapat ikut terbawa.
b.) Penambahan tanaman pelindung pada tanaman kopi agar kelembaban kebun menjadi agak tinggi.
c.) Penggunaan insektisida selektif pada sarang-sarang semut rang-rang.

3. BUBUK BUAH KOPI / Stephanoderes hampai

Gejala Seranagan
     Buah kopi muda yang terserang menjadi kuning, mengalami busukan, akhirnya gugur. Serangan pada buah kopi tua, dari luar buah kopi tamapak tumbuh dengan baik ( tidak ada perubahan warna buah dan tidak gugur ), padahal pada bagian dalamnya keropos.

Cara Hidup
     Mula-mula bubuk dewasa menggerek bagian ujung buah pada satu keping biji kopi. Betina letakkan telur pada rongga pada keping biji yang digerek. Produksi telur setiap betina rata-rata 15-56 butir.Setelah telur menetas, larva merusak keping biji sehigga kerusakan buah menjadi lebih berat. Larva dapat pindah dari satu buah ke buah yang lain, akibatnya banyak buah yang tampak dari luar sangat baik, tetapi didalamnya kosong. Stadium telur 9-14 hari, Stadium larva 19-25 hari, dan stadium pupa 5-15 hari. Daur hidup bubuk buah kopi kurang lebih 95-196 hari.

Pengandalian 
a.) Pembudidayaan tanaman dengan baik, sejak pengolahan tanah, pemilihan biibit, hingga pengaturan pohon pelindung dengan aturan pemangkasanya
b.) Secara mekanis, dengan memetik buah yang terserang dan mengumpulkan buah yang jatuh sebelum waktunya.
c.) Pemetikan buah masal apabila terlihat ada serangan hebat atau dengan memetik buah yang tertinggal pada saat panen.
d,) Penggunaan insektisida selektif.

PENYAKIT

1. KARAT DAUN Penyebab Penyakit Jamur Hemileia vastarix

Gejala Serangan  
     Pada sisi bawah daun terdapat bercak-bercak berwarna kuning muda, kemudian berubah menjadi kuning tua. Pada bercak terdapat tepung berwarna jingga cerah yang terdiri atas jamur karat. Bercak yang tua berwarna cokelat tua sampai hitam mengering. Daun yang terserang akan gugur sehingga pohon gundul.

Cara Hidup
     Jamur membentuk spora dalam jumlah yang banyak, kemudian menjadi penetrasi kedalam jaringan daun. Infeksi terjadi melalui bagian permukaan bawah daun.
     Perkecambahan spora mermelukan air.  Lama waktu perkecambahan  tergantung pada suhu. Pada suhu optimum 21-15 C diperlukan waktu 1-3 jam untuk berkecambah.

Faktor Yang Berpengaruh
a.) Air berperan penting dalam penyebaran penyakit
b.) Angin berperan dalam penyerbukan spora.
c.) Umur daun menentukan kerentanan terhadap penyakit. Daun yang peling rentan ialah yang membuka penuh.
d.) Pohon atau cabang yang berubah lebat lebih rentan.

Pengendalian
a.) Menggunakan varietas kopi yang tahan.
b.) Menggunakan mikroba yang bersifat berlawanan
c.) Menggunakan fungisida

2.  JAMUR UPAS Penyebab Penyakit : Jamur Upasia salmonicolor

Gejala Serangan
     Infeksi terjadi pada percabangan atau sisi bawah cabang dan ranting. Mula-mula jamur membentuk miselium tipis, mengilat seperti sutra atau perak, disebut stadium ramah laba-laba. Pada stadium tersebut jamur belum masuk ke dalam kulit
    Pada bagian ranting yang tidak terlindung , Stadium rumah laba-laba akan berkembang menjadi stadium bongkol , kemudian membentuuk banyak sporodokium berwarna merah, disebut stadium anmorf.

Cara Hidup
     Jamur upas membentuk bisidiospora, berbentuk seperti buah pear dan bersifat poligaf. Tanaman inang lainnya : karet, teh, kakao, kina, jeruk, mangga, nangkak, jati, kelengkeng, dan melinjo.

Faktor Yang Berpengaruh
a.) Tanaman pupuk hijau (Tephrosia candida) sering menjadi sumber infeksi.
b.) penyakit banyak terjadi pada kebun yang lembab, pemangkasan kurang, dan pohon pelindung  terlalu rapat.
c.) Penyakit lebih banyak terdapat di daerah dengan curah hujan tinggi.

Pengendalian
a.) Sanitasi, yaitu sebagai berikut:
    1.) Mengurangi kelembaban kebun , dengan memangkas pohon pelindung atau ranting kopi yang              tidak produktif
    2.) Membersihkan sumber infeksi yang ada di sekitar, misalnya tanaman pupuk hijau yang sakit.
b.) Penggunaan fungisida, dengan cara melumaskan fungisida pada batang atau cabang besar yang terserang jamur.

3. AKAR COKELAT Penyebab Penyakit Jamur Phellinus noxinus

Gejala Penyakit
      Dauan-daun tanaman yang sakit menguning, layu, dan rontok. Jika akar tanaman sakit dibongkar, pada akar tungganya tertutup kerak yang terdiri atas butir-butir tanah yang melekat sangat kuat sehingga tidak dapat terlapas, walaupun sudah dicuci dan disikat. Di antara butir-butir tanah tampak adanya  jaringan jamur yang berwarna cokelat tua sampai cokelat kehitaman.
     Kerak terjadi karena mesilium  yeng membungkus akar berlendir sehingga butir-butir akar melekat kuat . Akar yang sakit menjadi busuk kering, dan lunak mempunyai garis-garis cokelat gambir yang berdidri atas miselium jamur.

Cara Hidup 
     Jamur menular ketanaman sehat karena adanya  kontak antara akar yang sehat dan akar yang sakit. Jamur menular sangat lambat karena umumnya hanya terdapat pada akar tunggang. Dengan demikian, akar tanaman yang sehat akan jarang berkontak dengan bagian-bagian yang sakit.
     infeksi hampir selalu terjadi  di tempat-tempat yang mempunyai sisa-sisa tunggul pohon hutan. Pada tonggak yang terpendam dalam tanah, jamur mampu bertahan hidup sampai 14 tahun.
     Tanaman inang lain : karet, teh, kakao, kelapa, kalapa sawit, kina, kapuk, kapas, nangkak, dadap, kapur barus, kluwih, lamtoro, dan kayu manis.

Faktor Yang Mempengaruhi
    Kebun di bekas tanah hutan atau kebun tua yang pembukaanya tidak dilakukan dengan baik akan mudah terserang jamur.

Pengendalian
a.) Dilakukakn pembokaran pada tanaman sakit , sisa-sisa akar diambil dan dibakar
b.) membuat saluran isolasi ditempat yang terinfeksi
c.) Melakukan peremajaan, dangan membongkar tanaman yang sudah tua hingga tidak dijumpai tunggu pohon-pohon tua.


Nama daerah :
     Buah Naga, Pitaya

Botani           :
foto: dok.penerbit
     Tanaman Tahunan, bentuk seperti kaktus, bunga bebau wangi, sehingga banyak serangga hinggap untuk membantu penyerbukan. Kulit buah bersayap banyak, warna kulit merah muda, berat buah 400-1000 g lebih. Buah mentah warana kulit hijau, setelah masak menjadi merah. Isi buah berwarna putih, merah, atau ungu dengan taburan biji-biji berwarna hitam yang dapat dimakan. Rasa buah agak masam, banyak mengandung air, Vitamin C, dan Karotenoid.

Ekologi        :
     Tanaman berasal dari amerika serikat, mudah tumbuh di daerah tropika dengan cahaya matahari yang cukup  dan  sistem pengairan yang baik. Tanah yang dikehendaki tanah berpasir yang kaya akan bahan organik.

Budidaya     :
    Buah naga banyak diperbanyak dengan biji atau turus batang. Perbanyakan dengan turus batang lebih banyak dilakukan karena batang tumbuh lebih cepat. Perbanyakan menggunakan biji kering, terlebih dahulu disemaikan di polybag.
foto: dok.penerbit
  Karena merupakan tanaman menjalar maka memerlukan ajir atau tiang panjat untuk membantu pertumbuhan batang. Ajir diperlukan untuk mengikat batang supaya tidak mudah patah. Jarak tanamnya adalah 80 x 100 cm.

     Tanaman tidak banyak mermerlukan penyiramam , cukup seminggu sekali dan tidak disiram saat musim hujan.
    
     Pemangkasan dilakukan pada cabng yang tumbuh sangat panjang, Tanaman mulai berbungan dan  berbuah setelah berumur 2 tahun

Khasiat         :
     Tanaman buah naga memiliki banyak manfaat dan khasiatnya seperti mengobati :
buah naga merah & kuning

     Itu lah, beberapa ilmu untuk membudidayaka tanaman saga dalam sekala kecil dirumah. Semoga
dengan artikel yang sedikit ini dapat membantu dan menambah ilmu para petani dan keluarga dirumah. Janagan lupa uantuk di bagikan artikel ini ke kawan, krabat, keluaraga, dan seluruh masyarakat indonesia khususnya petani indonesia agar petani kita dapat bersaing dengan petani di luar negeri sana. Sekian terima kasih.






.



-Nama Daerah    :
   Saga, Saga Telik, Saga Manis

-Botani                 :
   Saga merupakan tanaman perdu merambat, melilit, tinggi 2-5 m. Daun majemuk tunggal dan duduk berselang seling. Anak daun 8-17 pasang, bentuk bulat telur, panjang 0,6-2,5 cm, lebar 3-5 mm, jika diremas rasa seperti kayu manis. Bungan majemuk, panjang bunga 1-1,5 cm, warna tajuk ungu muda sampai kemerahan. Variasi ukutan daun tergantung tempat tumbuh. Buah polong, panjang 2-5cm, baris 3-6 biji. Biji berbentuk bulat lonjong, garis tengah 0,5 cm, keras, biji segar berwarna merah mengkilat.

-Ekologi              :
     Di indonesia tanama dapat tumbuh dengan baik di ketinggian 0-1000 mdpl, pada berbagai macam tanah, dengan curah hujan 1.500-4.500 mm/tahun. Mermelukan sedikit atau sebagian naungan.

-Budi Daya         :   
 Tanaman merambat pada pagar, umumnya ditanam di pekarangan. Perbanyakan tanaman menggunakan biji. Biji yang akan dipergunakan direndam terlebih dahulu dan di pilih yang tenggelam. Penanaman dimulai dengan menyemaikan biji, bibit baru dapat di tanam dikebun pada umur 3-4 bulan.
     Biji dapat juga ditanam langsung di kebun dengan cara dicangkul 1-2 kali dan diratakan kemudian di tugal sedalam 3-5 cm pada jarak 25-60cm. Tiap lubang tugalan diisi 3-5 butir. Kebutuhan biji untuk 1 hektar tanah kurang lebih 25-40 kg biji ( rata-rata 1 kg biji berisi 7.500 butir)
     Cara penanaman langsung dikebun dilakukan pada musim hujan atau musim kemarau bila tersedia air. Penanaman dikebun ditempat yang cukup naungan. Apabila tanaman di tanam di tempat terbuka, dapat menjadi tanaman penutup tanah atau LCC dan dapat menyuburkan  tanah karena tergolong tanaman pupuk hijau.
   
     Tanaman tidak mermelukan banyak perawatan. Pemeliharaan terdiri atas penyulaman, pemupukan, mengedalian hama dan penyakit.
     Pengendalian kutu tanaman menggunakan insektisida sistemik, dan pemusnahan tanaman yang terserang Meloidogyne sp, Heterodera sp. dan penyakit sapu setan  yang disebabkan oleh virus marioni.
     Tanah yang agak kurus dipupuk dengan pupuk mengandung 25-50 kg Nitrogen, 45 kg Pospat, dan 50 kg Kalium per hektar.
     Panen pertama dilakukan setelah tanaman berumur 6-8 bulan. Panen daun dengan cara memengkas tanaman setinggi 25-30 cm dari tanah. Panen akar setelah tanaman berumur 2,5-5 tahun dengan produki 2.500-3.500 kg akar basah per tiap hektar. Cara pengeringan dengan sinar matahari kurang lebih 4 hari.

-Khasiat          :
      Tanaman saga memiliki banyak khasiat untuk kesehatan terutama daunnya yang dimanfaatkan untuk mengobati :
    - Antisariawan                                                           
    - Amandel                                                                   
    - Batuk Kering
    - Panas dalam
    - Bronkitis
   

       Itu lah, beberapa ilmu untuk membudidayaka tanaman saga dalam sekala kecil dirumah. Semoga dengan artikel yang sedikit ini dapat membantu dan menambah ilmu para petani dan keluarga dirumah. Janagan lupa uantuk di bagikan artikel ini ke kawan, krabat, keluaraga, dan seluruh masyarakat indonesia khususnya petani indonesia agar petani kita dapat bersaing dengan petani di luar negeri sana. Sekian terima kasih.


Pupuk Kandang Sudah Jadi
      Pupuk Kandang dibedakan menjadi pupuk kandang segar dan pupuk kandang busuk. Pupuk kandang segar merupakan kotoran hewan yang baru keluar dari tubuh hewan yang kadang-kadang masih tercampur dengan urin dan sisa-sisa makanan hewan itu. Pupuk kandang busuk merupakan kotoran hewan yang telah disimpan lama sehingga telah mengalami pembusukan.
   




      Pupuk kandang dapat dibuat melalui proses pembusukan limbah pertenakan dan sisa-sisa hijauan. Dengan proses yang benar limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Proses itu disebut pengomposan. Proses pengomposan bermanfaat untuk :

a. Mengurangi bau tidak sedap (busuk) pada lingkungan pertenakan.
b. Menghilangkan faktor penghambat pertumbuhan tanaman yang ada pada kotoran ternak segar            (KTS).
c. Menghilangkan kesan kotor / menjijikan.
d. Menghilangkan agen patogen atau bibit rumput liar yang ada pada limbah ternak.
e. Meningkatkan nilai jual pupuk untuk tambahan pendapatan ternak.

     Untuk mempercepat proses pengomposan dapat diberikan starter. Starter berisi mikroba yang berperan aktif dalam proses pembuatan pupuk organik, termasuk pupuk kandang. Beberapa jenis starter yang beredar di dipasaran di antaranya adalah Starbio dan EM-4. Starter mengoptimalkan manfaat dan kandungan unsur hara dari pupuk organik. Selain starter, dalam pembuatan pupuk kandang juga diperlukan beberapa bahan lain, yakni kapur, abu, serbuk gergaji, sekam, dan bahan lainnya.
        Pupuk Organik dapat digunakan sebagai media tanam, diantaranaya untuk sayuran, bunga, dan pertanian organik. Kelebihan lainnya, penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan pendapatan petani.

A. Membuat Pupuk Kandang Dengan Cara Pertama
     Untuk membuat pupuk kandang cara pertama ini digunakan sisa hasil pertanian yang dicampur dengan sisa pakan/hijauan (jerami/rumput). Cara membuatnya adalah sebagai berikut : 
1. Timbun kotoran ternak yang bercampur dengan rumput dan jerami di tempat yang teduh dan   
    beratap tinggi tumpukan maksimal 2 m.
2. Siram timbunan tersebut dengan air yang sudah dicampur               dengan starter (0,1%) dengan cara dipercik - percikkan hingga          rata. Suhu pada tumpukan bagian dalam akan naik setelah                beberapa hari      hingga mencapai 700 Celsius.
3. Diamkan selama 2 minggu dan kemudian aduk hingga rata.              Suhunya akan turun menjadi kurang lebih 400 Celcius.                      Pengadukan dilakukan setiap 2 minggu sekali. Perlakuan ini           terus dilakukan            selama 2-3 bulan, jadi ada 4-6 kali                  pengadukan.
4. Setelah 3 bulan maka pupuk organik telah jadi dan dapat                  digunakan sebagai pupuk.

B. Membuat Pupuk Kandang Dengan Cara Kedua
    Untuk membuat pupuk ini digunakan  sisa hasil pertanian yang tidak tercampur dengan sisa pakan hijauan. Cara membuatnya adalah sebagai berikut :
1. Kotoran ternak segara dikeluarkan dari kandang dan dijemur hingga setengah kering. Penjemuran      biasanya dilakukan setiap hari.
2. Hamparkan tipis-tipis kotoran tersebut dan timbun setiap hari di atasnya sambil diaduk-aduk                hingga menjadi setengah kering.
3. Kumpulkan dan tumpuk di tempat terpisah pada ruang yang beratap.
4. Kotoran ternak yang bercampur dengan sisa-sisa pakan diaduk setiap 3-4 hari sekali. Lakukan            selama 30 hari dan tambahkan starter 0,1 % dengan cara dipecik-percikan.
5. Tumpukan bahan yang setengah jadi kemudian dicampur dengan kotoran sapi setengah kering dari      luar dan diadduk. Hal ini dilakukan setiap hari.

    Percampuaran bahan organik setengah jadi dengan kotoran ternak setengah kering dimaksudkan untuk mempercepat proses pengomposan. Pupuk yang sudah jadi dapat langsung di aplikasikan dan dapat pula digunakan sebagai bibit pupuk untuk pembuatan pupuk selanjutnya. Pupuk yang akan dijual diayak dan dikemas, diberi label identitas  produsen.

Catatan : Dalam larutan starter, EM-4 atau starbio, mikroorganisme yang ada di dalamnya masih dalam keadaan tidur ( dorman ) sehingga perlu diaktifkan terlebih dahulu. Cara Mengaktifkannya dengan cara sebagai berikut :
a. Campurkan 1 cc Starter dengan1 liter air dengan 1 gram gula merah ( larutan 0,1% starter ) atau          sesuai petunjuk pemakaian.
b. starter sudah siap disemprotkan ke bahan organik dengan sprayer.
c. Jika tidak segera digunakan, simpanlah larutan starter yang sudah jadi dalam jirigen atau botol            plastik yang dapat ditutup rapat. Untuk menyimpannya sebaiknya anda jangan menggunakan botol      kaca.
d. Simpanlah di tempat sejuk dan gelap, hindari sinar matahari dan jangan dimasukan kedalam                lemari es.
e. Starter ini sebaiknya digunakan dalam jangka waktu 3 bula ( atau lihat anjuran pakainya.)

Apabila sudah jadi  maka pupuk kandang siap dikemas. Ciri-ciri pupuk kandang yang sudah masak adalah sebagai berikut :
1. Bahan-bahannya sudah hancur karena proses pengomposan.
2. Teksturnya berupa remah, tidak lengket dan tidak panas, dengan suhu alami sekitar 30 Celcius.
3. Berwarna coklat kehitaman.
4. Dan yang terakhir, kadar air antara 34 - 35 %.

Pupuk Yang Telah Masak

    Sekian blog ini saya buat semoga bermanfaat dan bisa menambah ilmu para petani khususnya petani yang ada Indonesia, agar petani Indonesia unggul dan dapat bersaing dengan petani diluar sana. Mohon maaf jiak ada salah kata atau yang menyinggung perasaan pengunjung, Terima Kasih.

1. Membuat Pupuk Kompos Sistem Segitiga 

    Kompos  Segitiga adalah kompos yang dibuat dengan sistem terowongan udara, yaitu dengan menumpuk cacahan daun, rumput, dan bahan lain diatas segitiga panjang yang terbuat dari bambu atau kayu. Terowongan  udara itu berukuran tinggi 20 cm dengan panjang 1,5 - 2 meter. Buatlah alat ini  duah buah dan letakkan berdampingan.



1. Tumpuklah sampah organik pada satu terowongan dan biarkan yang lainnya.
2. Tambahkan bahan dan siram dengan air setiap hari agar tetap lembab.
3. Setelah bagian bawah berwarna hitam, balik kompos tersebut dan tuang ke dalam              segitiga yang satu. Apabila ada sampah organik yang baru, tumpuklah pada segitiga          yang lama.
4. Jaga selalu kelembabannya dengan menyiraminya dengan air. Biarkan kira-kira 6              minggu sampai semua bahan organik menjadi berwarna kehitaman (mirip tanah). Bila        demikian maka berarti kompos sudah siap digunakan.


Baca Juga : Cara Membuat Pupuk Kandang Secara Cepat Dengan EM-4 | TekInfoTani.com
Baca juga : 1001 Cara Membuat Pupuk Organik | Cara Pembuatan Pupuk Organik Super Terbaru 2019

2. Membuat Pupuk Kompos Sistem Bogor

     Untuk membuat kompos sistem bogor, caranya dibahas di bawah ini. Siapkan dahulu bahannya dan kemudia lakukan langkah-langkahnya.

Bahan :
1. Samaph yang sudah lapuk (garbage)
2. Jerami yang sudah dicampur dengan kotoran dan air kencing ternak
3. Kotoran ternak pemamah biak
4. Abu dapur atau abu kayu.

Cara Pembuatan :
1.) Timbun campuran jerami dan sampah hingga setinggi 25 cm di atas bedengan berukuran 2,5 x 2,5       meter.
2.) Timbunkan campuran kotoran dan air kencing ternak di atas timbunan tadi tipis-tipis dan merata.
3.) Timbun lagi campuran jerami dan sampah hingga 25 meter.
4.) Tutup lagi dengan campuran kotoran dan kencing ternak.
5.) Timbun bagian paling atas dengan abu sampai setebal ± 10 cm.
6.) Bolak-balik campuran bahan kompos setelah 15 hari, 30 hari dan 60 hari.
7.) Setelah diproses selama 3 bulan maka kompos sudah cukup matang. Agar pengomposan berhasil,       buatlah atap di atas bedengan pengomposan sebab air hujan dan sinar matahari langsung dapat             menggagalkan proses pengomposan.





     Kondisi lingkungan yang lembab dan basah menjadi kondisi yang nyaman bagi perkembangan patogen atau sumber penyakit. Ketika musim penghujan tiba, akan terlihat banyak penyakit bermunculan, antraknosa salah satunya.

Hasil gambar untuk Penyakit Antraknosa Pada Tanaman Cabai    Setiap musim mempunyai tantangan tersendiri bagi para petani. Pada musim kemarau biasanya banyak terjadi ledakan hama, sedangkan pada musim hujan banyak terjadi ledakan penyakit terutama yang berkaitan dengan bakteri dan jamur.
     Hingga saat ini antraknosa (patek) masih menjadi penyakit utama pada tanaman cabai, karena penyakit ini sangat susah sekali untuk dikendalikan. Kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit ini pun bisa mencapai 100%.


1. Gejala

     Gejala yang ditimbulkan oleh Colletotrichum capsisi dan Gloeosporium piperatum sukar dibedakan, meskipun keduanya dapat menyerang buah yang masih muda atau kecil, tetapi gejala serangan  Gloeosporium piperatum dapat terlihat baik pada buah yang masih mentah maupun yang sudah masak, sedangkan geajala serangan  Colletotrichum capsisi hanya dapat dijumpai pada buah yang  sudah masak saja. Gejala mula-mula berupa bercak kecil yang selanjutnya dapat tumbuh menjadi lebih besar. Gejala tunggal cenderung berbentuk bulat, tetapi karena banyaknya titik awal gejala maka gejala yang satu dengan yang lain sering bersatu sehingga membentuk bercak yang besar dengan bentuk tidak bulat. Pada geajala yang sudah cukup besar, sering dibagian tepinya coklat dan bagian tengahnya putih. Bercak yang terbentuk umumnya agak cekung atau melekuk dan mulai dari bagian tengahnya mulai dibentuk aservulus jamur yang berwarna hitam, yang biasanya membentuk lingkaran yang berlapis. (Lihat Gambar di Bawah Ini)

Penyakit Antraknos Pada Cabai

2. Penyebab
 

      Ada dua penyebab penyakit pada antraknos cabai ini. pertama Colletotrichum capsici (Syd.) Butl. & Bisby, yang dahulu dikenal dengan diameter 100 µm, yang di pinggir lubangnya mempunyai seta (bulu) warna coklat dengan ukuran 75-100 x 2-6,2 µm, sedangkan konidi yang berupa batang, agak bengkok, warna hialin dengan kedua ujungnya runcing berukuran 18,6-25 x 3,5-5,3 µm. Penyebab yang kedua adalah Gloeosporium piperatum Ell & Ev. Jamur ini membentuk aservulus tanpa seta, warna kuning jingga atau merah jambu, sedangkan konidi berbentuk batang warna hilain yang kedua ujungnya tumpul dengan ukuran 15,5-18,6-5,3-6,2 µm. kedua jamur tumbuh baik pada suhu antara 23ºC-30ºC di daerah yang lembab. Oleh karena itu, penyakit ini lebih banyak muncul pada musim penghujan daripada musim kemarau, meskipun pada musim kemarau tanaman cabai tidak bebas dari gangguan penyakit ini.

3. Pengendalian

     Penyakit ini umumnya dikendalikan dengan menggunakan berbagai macam fungisida, di antaranya fungisida yang mengandung Cu ataupun karbendezim, meskipun dapat sangat dikurangi dengan jalan pengaturan kelembapan kebun, misalnya dengan jarak tanam yang tepat dan pemberian air secukupnya.

      Begitulah Gejala, Penyebab dan Cara Pengendalian untuk penyakit antroknos pada tanaman cabai, semoga bermanfaat meskipun materinya sedikit.
         Jangan lupa untuk membagikannya kepada keluarga, teman, kerabat, serta petani-petani di Indonesia agar pengetahuan para petani kita bertambah. Sekian Terima Kasih.
     
      Terlalu fokusnya petani pada penyakit dan hama prapanen, terkadang menjadikan petani lemah terhadap serangan penyakit pascapanen. Padahal, penyakit pascapanen mendatangkan kerugian yang tidak kalah besar. Antisipasi terhadap Penyakit pascapanen dapat meningkatkan mutu hasil pascapanen, menurunkan tinkat kerugian hasil pascapanen, dan menigkatakan kesejahteraan petani.
 

     Dalam blog ini, dibahas penyakit pascapanen parasitik, pentingnya menghindari penyakit pascapanen untuk mencegah kerugian yang besar, cara menjaga mutu tanaman pascapanen agar tetap baik, dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas penyakit terbaru yang menyerang padi pada saat pascapanen dan cara pengendaliaannya.

1. Penyakit Beras Kuning (Yellowsis Rice)



     Penyakit ini ada yang tidak beraun (nonpoisonus yellowsis rice) disebabkan oleh Trichoderma dan Pseudomonus, dan ada yang beracun ( poisonus yellowsis rice). Mula-mula terdapat di Thailand disebabkan oleh Panicillium citrinum dan Panicillium toxicarium yang sekarang disebut Panicillium citreoviride, sedangkan yang mula-mula terdapat di Islandia disebabkan oleh Panicillium islandicium. Penyakit ini biasanya timbul bila padi yang masih basah atau lembab ditimbun dalam waktu yang lama tidak lekas dijemur. Selain itu, dapat pula terjadi pada padi yang sudah kering, tetapi disimpan ditempat yang sangat lembab. Karena beras yang sakit warnanya kuning maka penyakitnyadisebut beras kuning, dan kadang-kadang mengandung racun maka akan berbaha bagi konsumennya.


     Panicillium citrinum menghasilkan racun yang disebut citrinin dengan rumus kimia CHO. Dalam bentuk kristal berupa jarum berwarna kuning, dengan titik cair 166ºC-177ºC, tidak larut dalam air, tetapi dapat laru dalam kloroform dan larutan sedikit dalam eter panas. Panicillium citreoviride menghasilkan racun yang disebut Citreoviridin. Jamur ini merupakan jamur anaerobe dengan titik pertumbuhan minimum 3ºC-5ºC, Optimum 30ºC dan maksimum 40ºC-50ºC. Sporanya belum mati pada pemanasan sampai 60ºC selama 5 menit.

   Panicillium Islandicum menghasilkan racun yang disebut luteoskyrin yang dahulu disebut islanditoxin denganrumus kimianya CHOCl. Dalam bentuk kristal berupa jarum yang tidak berwarna. Titik cair 250ºC-251ºC, larut dalam alkohol dan aseton, dan tidak larut dalam pelarut nonpolar. Hidrolisis dari asamnya menghasilkan 3 macam asam amino. Struktur molekulernya tampak terdiri dari gugus peptida, ikatan C-Cl dan cincin Benzena, bersifat stabil dalam larutan asam dan netral serta bersifat labil dalam larutan basa. LD minimum untuk tikus putih 3 Mg / Kg. Tikus putih yang diberi makan campuran beras kuning dengan kubis akan mati setelah 7 hari, tetapi bila beras kuningnya dicampur dengan beras sehat dengan perbandingan 1:1 baru mati setelah 21 hari. Karena penyebab utamanya faktor lingkungan, yaitu kelembaban  maka penyakit ini dapat dihindari dengan tidak menumpuk padi yang masih basah atau menumpuk padi kering di tempat lembab. Padi yang kandungan airnya 12% sudah bebas dari serangan jamur-jamur tersebut. Padi yang kandungan airnya 12%  dapat diketahui dengan mudah, yaitu bila tangkai malainya (merangnya) dengan mudah dapat dipatahkan, bahkan bagi petani yang sudah berpengalam ia akan menggigit gabah sampai pecah dapat diperkirakan kandungan air gabah tersebut.

2. Penyakit Bercak Cokelat Pada Padi Oleh Drechslera Oryzae


   Dahulu penyebab panyakit ini disebut Helminnthosporium oryzae. Pada awal serangan atau serangan ringan gejala berupa bercak-bercak kecil yang memanjang berwarna cokelat. Gejala pada saat ini mirip sekali dengan gejala hama yang disebabkan walang sangit, tetapi kalau kita perhatikan betul-betul, bercak yang disebabakan oleh hama walang sangit di tengahnya terdapat seperti tepung yang berwarna putih atau kalbu, sedangkan bercak yang disebabkan oleh Drechslera Oryzae tidak ada. Apabila lingkungan luar mendukung bercak kecil tadi akan meluas dan bahkan dapat menutupi seluruh permukaan gabah sehingga gabah menjadi mula-mula putih, tetapi selanjutnya berubah menjadi warna coklat atau hitam. Konidium jamur ini termasuk kedalam kelompok phaeophragmie, artinya warna gelap dan terdiri dari lebih 2 sel dengan sekat melintang saja. Masing-masing dari sel pada konidum tersebut  dapat berkecambah sendiri-sendiri, meskipun pada umumnya yang berkecambah hanya yang paling ujung (apical) saja. Meskipun jamur dan walang sangit dapat menyerang sendiri-sendiri tetapi dapat pula menyerang bersama-sama, umumnya dimulai oleh walang sangit lalu diikuti oleh jamurnya, hingga gejala sukar dicirikan, sebab merupakan gejala gabungan.

     Gabah yang sakit kalau digiling mudah pecah dan biasanya rasanya pahit serta tidak tahan lama bila disimpan. miselium dapat dijumpai baik pada permukaan gabah maupun didalamnya, dan dapat bertahan sampai beberapa tahun. Jamur ini mempunyai suhu kehidupan minimum 2ºC, Optimum 25ºC-30ºC, dan maksimum 41ºC. Untuk keperluan infeksi suhu yang paling cocok 22ºC dengan kelembapan minimum 92 %.  Di lapangan jamur ini dapat bertahan pada sisa-sisa makanan dan didalam tanah. Pada suhu tanah 31ºC dengan kelambapan 20%  jamur ini dapat bertahan selama 6 bulan, sedangkan pada suhu yang sama dengan kelembapan 92% hanya mampu bertahan selama 1 bulan saja. 

     Cara pengendalian yang mudah  dan murah bagi penyakit ini adalah dengan menjemur padi atau gabah dengan sinar matahari hingga kandungan air hanya 12 % atau lebih kecil lagi, selanjutnya jangan disimpan pada ruangan yang lembab supaya kandungan airnya tidak meningkat lagi sebagai akibat keseimbangannya dangan kelambaban udara di sekitarnya.